Sabtu, 27 Agustus 2016

CANTIK ITU RELATIF



 CANTIK ITU RELATIF

 

 Cewek culun berubah jadi cewek cantik? Mungkin itu hanya di dongeng – dongeng aja. Namun nyatanya ini yang dialami Dinda.


Yaaa... Dinda Ariani. Dia adalah gadis yang cantik, berkulit putih, bola matanya indah berwarna coklat, mempunyai tubuh yang ideal, alis yang tebal, bibir yang tipis, dan mempunyai rambut pirang yang lurus dan panjang. Namun sayangnya Dinda adalah gadis culun yang tidak mau merubah penampilannya. Dia selalu memakai kacamata yang tebal, selalu mengepang rambutnya sehingga seperti gadis desa, dan penampilan yang selalu kuno atau ketinggalan jaman. Padahal, Dinda termasuk dalam katagori orang yang berada atau berkelas.

“Mama.. Dinda berangkat sekolah dulu yaaa.” Teriak Dinda kencang

“Iya sayangg hati – hati dijalan yaa.” Sahut mama Dinda dari dalam rumah.

Dinda adalah murid SMA. Dinda duduk dibangku sekolah kelas 12 IPA-2. Dinda bersekolah disalah satu sekolah yang elit. SMA Nusa Indah.

“Non, sudah sampai.” Supir Dinda menoleh ke belakang ke arah Dinda.

“Oh iya pak.” Dinda kaget karena dia sibuk membaca novel kesukaannya.

Dinda memang bisa dibilang seorang yang kutu buku. Setiap hari saat bel istirahat dia selalu menyempatkan pergi ke perpustakaan untuk membaca. Patut saja nila – nilai dia dari semester 1 sampai sekarang, Dinda selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya. Dinda termasuk anak yang pintar disekolahnya.

“Oh ya Din, lo uda ngerjain PR fisika belom?” tanya Inggrid sambil makan es krim yang ada di tangannya.

“Uda dongg, DINDAAAAA” menepuk dada dan tertawa kecil.

“Gue liat donggg, gue gak paham Din.”

“Lo yang gak paham atau lo yang males buat ngerjain PR fisika?” goda Dinda

“Hehehe... lo ngerti aja sih Din. Yaa bisa dibilang dua – duanya sih.” Muka Inggrid memerah.

“Eh Nggrit, tuh dicariin cowo lo” jari Dinda nunjuk ke arah pintu kelas.

“Oh iya Din ada Tomi. Hmmm gue uda cantik belom Din? Ngerapiin rambut sambil cengar – cengir gak jelas.

“Uda uda...” muka bete.

 

 

***

“Mom... Angkasa pergi ke sekolah dulu ya” sambil membawa satu potong roti dan mengunyahnya.

“Oh iya Angkasa, kamu harus baik – baik ya sama sekolah baru kamu.” cium pipi Angkasa.

“Siap mom. Angkasa pergi dulu yaaa.... love you mom.” Mencium balik pipi mama nya.

Angkasa segera memanaskan mobil nya dan bersiap untuk pergi ke sekolah baru nya. Sial kenapa gue harus balik ke Indonesia, sedangkan gue uda nyaman banget sekolah di Australia. Batin Angkasa sambil menyetir mobil nya.

SMA NUSA INDAH.

“Yaa ya yaaa, selamat datang murid baru.” Membuka sabuk pengamannya.

Angkasa segera bergegas keluar dari mobilnya. Dan melepaskan kacamata hitam nya. Saat Angkasa keluar dari mobil, semua pra siswa yang ada disitu langsung melihat Angkasa apalagi mata cewek – cewek di sekolah itu langsung tertuju pada Angkasa. Angkasa bisa dibilang cowok  keren. Dia tinggi, putih, mempunyai hidung yang mancung, senyum yang manis, dan cool abis. Namun banyak diantara mereka yang tidak tahu bahwa Angkasa adalah anak dari pemilik sekolah SMA Nusa Indah. Papa dan mama nya Angkasa sering kali terlihat mondar – mandir di sekolah ini.

 

 

 

 

 

 

“Oke anak – anak sekarang keluarkan PR kalian kemarin. Lalu kumpulkan di depan.” Perintah Bu Susi selaku guru fisika.

“Baikkk buuuuuuu,......” serentak seluruh siswa dikelas.

Bu Susi pun akhirnya memberi materi baru untuk anak kelas 12.

“Nah jadi sekarang kita akan masuk bab baru yaitu.....” menerangkan di papan.

Tok tok tok

“Oh ibu kepala sekolah. Silahkan masuk bu.” Bu Susi memberikan senyuman.

“Eh kenapa nih Bu Reni kesini?” bisik Dinda kepada Inggrid.

“Gue juga gatau, jangan – jangan dikelas ini ada yang kena masalah lagiii... aduh gimana nihhh”, raut wajah Inggrid menegang dan gigitin jari.

“Aduh uda deh kan kita juga gatau ada apa. Santai aja Nggrid.” Guman Dinda tenang.

“eh ada apa nihhhh......” bisik seluruh siswa di kelas itu.

“Hmm mohon perhatiannya sebentar...” sambil membenahi kacamatanya.

“Iya buu” serentak seluruh siswa.

“Oke anak – anak kedatangan saya disini adalah untuk memberitahukan bahwa dikelas ini 12 IPA-2 kedatangan siswa baru.”

“Bu.. cewek apa cowok?” kata Luna sambil menggulung – gulung rambutnya.

Memang Luna termasuk cewek populer di sekolah. Namun Luna sangat membenci Dinda karena cara berpenampilan yang kuno dan menurut dia, Dinda orang yang sok pintar. Tapi saat semua orang yang ada disekolah itu mengucilkan Dinda, Inggrid selalu ada untuk menemani Dinda. Walau bisa dibilang Inggrid juga cewek yang cantik dan dia juga mengikuti ekstrakurikuler cheerleader.

“Luna, jangan potong omongan Bu Reni tidak sopannn!” mata Bu Susi melotot ke arah Luna.

“Oke silahkan masuk Angkasa.” Kata Bu Reni.

Angkasa masuk ke dalam kelas. Dan semua siswa langsung terpana akan kegantengannya. Apalagi Luna yang sok kecakepan itu.

“Ihhhh ganteng bangetttttttt....” kata Luna sambil senyum sendiri.

“Ganteng banget Din.” Inggrid menyenggol Dinda.

“Apaan sih biasa aja.” Manyunin bibir.

Suasana kelas mulai gaduh.

“Oke silahkan kamu perkenalkan diri kamu.” Perintah Bu Reni.

“Hai guys...” kata Angkasa.

“Halloo...” sahut siswa semua.

“Perkenalkan nama gue Angkasa Pratama. Gue pindahan sekolah dari Australia. Kalian semua bisa panggil gue Angkasa. Dan gue harap kalian semua bisa menerima gue dikelas ini. Sekian perkenalan dari saya. Terimakasih.” Angkasa tersenyum.

“Hai Angkasa...” teriak cewek – cewek yang ada dikelas itu kecuali Dinda.

Angkasa hanya tersenyum.

“Ya sudah Angkasa kamu boleh duduk. Pilih bangku yang masih kosong ya.” Perintah Bu Susi.

“Oke kalau begitu sekian dari saya terima kasih.” Kata Bu Reni meninggalkan kelas.

“shutt.... duduk disamping gue aja.” Ujar Luna genit.

“Thank you tapi disini masih kosong.” Kata Angkasa kalem.

Angkasa duduk disamping Dinda. Teman – teman cewek Dinda sangat iri pada Dinda karena Angkasa duduk disamping Dinda.

“Ih Dinda ganjen banget sih.. makin benci deh gue sama dia.” Luna menyobek – nyobek kertas.

“Bukan dia, tapi lo yang ganjen.” Sahut Syahrul.

“Apaan sih lo.” Lua ngelemparin sobekan kertas tadi pada Syahrul.

Luna yang tadi nya biasa aja, lalu berguman dalam hati.

Ya Tuhan cowo ini ganteng banget. Andaikan aja aku bisa memilikinya. Tapi itu mustahil karena cowo – cowo disini aja banyak yang gak suka sama aku.

“Baiklah anak – anak kita lanjutkan pelajaran.” Suara Bu Reni menyadarkan lamunan Dinda.

 

 

***

Dinda merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya. Dia merasa hari ini sangat membahagiakan sebab Dinda duduk bersebelahan dengan Angkasa. Cowok paling keren yang pernah ada di sekolah.

“Gue kenapa jadi mikirin cowo itu terus ya? Padahal kan gue juga baru ketemu tadi.” Ngomong sama boneka teddy bear nya.

Dinda seperti melayang di udara. Dinda melamunkan dia saat berdua dengan Angkasa.

 Aroma khas yang keluar dari arah dapur membuyarkan semua lamunan Dinda. Dinda langsung tersadar dan segera mengacak – acak rambutnya. Dan dia harusnya tidak memikirkan Angkasa yang jelas – jelas dia gak tahu asal – usulnya.

“Hmmm.. mama masak kue kering nihhh.” Dinda beranjak dari tempat tidur dan menghampiri dapur.

Yap betul sekali prediksi Dinda, mama nya sedang membuat kue kering coklat kesukaan Dinda.

“Mama bikin kue kering kesukaan ku ya?” tanya Dinda girang.

“Iya dong.. nih cobain sayang.” Memberikan satu buah kue kering kepada Dinda.

“mmmm... yummy.... enak banget ma.” Mengunyah dengan mantap.

“Iya dong mama.” Sambil mengicipi juga kue yang tadi sudah dibikin.

 

Hari ini waktunya ujian Kimia. Seluruh siswa kelas 12 IPA-2 sangat sibuk belajar untuk menghadapi ujian Kimia. Dinda yang daritadi fokus membaca dan menghafalkan rumus kimia itu di kejutkan dengan Angkasa.

“Mmmm... haii.” Angkasa menjabat tangan Dinda.

“O..oo..hhh hai.” Sahut Dinda tanpa menjabat tangan Angkasa.

“Nama lo siapa? Gue uda seminggu duduk disebelah lo tapi belum ngerti nama lo?” tanya Angkasa dengan hati – hati.

“Dinda Ariani. Panggil aja Dinda.” Dinda tetap fokus membaca rumus – rumus kimia yang sekira Dinda lebih menakutkan dari film horor.

“Lo cuek banget ya? Beda kayak cewe – cewe yang perna gue temui.” Mengangkat alisnya.

“Gue beda terus kenapa? Lo gasuka?” jawab ketus oleh Dinda.

Kini mata Dinda bertemu dengan mata Angkasa. Selama kurang lebih 5 menit mereka berdua saling bertatap mata. Jantung Dinda berdetak sangat kencang.

Angkasa yang sejak awal pertemuan pertama melihat Dinda akan sudah ada ikatan yang seperti magnet, menempel sangat erat. Entah kenapa cewek culun yang ada dihadapannya sekarang sungguh sudah merampas sebagian hatinya. Namun Angkasa ingin sekali mengelak akan perasaan itu, tapi tidak bisa. Angkasa selalu memikirkan Dinda. Cewek yang tidak mempunyai fashion yang bagus dibandingkan dengan Luna yang setiap hari berdandan dikelas. Angkasa seperti menemukan dunia baru. Dunia yang lain. Biasanya setiap dia melihat cewek – cewek yang modelnya seperti Dinda dia selalu meremehkan. Atau kah mungkin Angkasa sudah terkena karma?

“Kenapa lo liatin gue gitu.” Suara Dinda membuyarkan lamunan Angkasa.

“Gapapa Din.” Jawab Angkasa kalem.

Pelajaran hari ini telah berakhir. Ujian kimia telah dilalui. Waktu pulang sekolah Dinda belum dijemput oleh supir yang biasanya. Tanpa sengaja Angkasa melihat Dinda yang sedang menunggu jemputan di dekat pos. Mobil Angkasa melaju menuju Dinda.

“Hai Din, mau pulang bareng gue gak?” Angkasa menurunkan kaca mobilnya.

“Nggak makasih.” Jawab Dinda ketus.

“Gak baik lo nolak ajakan orang. Itu nanti dosa lo.” Bujuk Angkasa.

“Iya deh iya. Emang mau lo anterin gue pulang?” Dinda mulai senyum kepada Angkasa.

“Lo nya mau apa enggak gue anterin pulang?” Angkasa senyum balik kepada Dinda.

“Boleh..” angguk Dinda lemah.

“Oke silahkan masuk.” Kata Angkasa.

 

 

***

Hampir sudah 10 bulan lebih Dinda dan Angkasa menjadi teman baik, teman dekat, yang bisa membuat cewek – cewek satu sekolah cemburu dan iri melihat kedekatannya. Apalagi Luna, Luna sangat membenci Dinda.

Jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Waktunya pulang sekolah Dinda menunggu jemputan supirnya tiba – tiba geng nya Luna menghampiri Dinda. Dinda kaget dan Dinda berusaha menyapa Luna.

“Hai Lun.” Sapa Dinda kalem.

“Gausa sok care lo sama gue.” Sahut Luna ketus.

“Hei anak culun. Gue bakal kasih lo pelajaran yaa!” kata Luna dengan muka memerah seakan marah kepada Dinda.

“Apa – apaan sih lo Lun? Gue gaperna punya masalah sama lo.” Sahut Dinda juga mulai terpancing emosi.

Tanpa pikir panjang geng Luna dan Luna menyiratinya Dinda dengan tepung, melempari dengan telur, kopi, dan air got. Luna yang tahu nya Angkasa tidak masuk sekolah hari ini membuat Luna semakin puas mengerjai Dinda, karena tidak akan ada lagi yang akan mau membantu Dinda termasuk temannya sendiri Inggrid. Dinda pasrah saat geng Luna melemparinya dengan telor. Dada Dinda sakit saat dipermalukan di depan umum. Dinda hanya bisa menangis saat dipermalukan. Karena disitu seluruh siswa sekolah melihat dan menertawakannya. Dan para guru – guru yang ada disitu juga lagi rapat karena akan diadakannya UN untuk anak kelas 12.

“Itu balesan buat lo karena lo uda rebut Angkasa dari gue. Dasar cewek ganjen.” Luna menuangkan air yang ada di dalam botol minumannya kepada Dinda

“Siapa yang bilang Dinda itu ganjen?” suara Angkasa mengheningkan suasana yang ada di sekitarnya.

“Angkasa?” Luna terkejut akan hadirnya Angkasa disana.

“Lo juga cewek kan? Seharusnya lo juga tau perasaan Dinda saat di permaluiin kayak gini! Lo bukannya bikin gue suka sama lo tapi malah bikin gue semakin benci dan ilfil sama lo!” Angkasa memaki dan memarahi Luna dengan kejam.

“Tapi Sa.. guee sayang sama lo.” Luna mencoba memegang tangan Angkasa.

“Gue jijik sama cewek kayak lo! Dan juga geng lo ini.” Angkasa semakin menjadi – jadi.

“Ayo Dinda, kita pergi dari sini.” Angkasa menggendong Dinda yang sudah sangat malu.

Luna yang melihat Dinda di gendong oleh Angkasa semakin membenci Dinda.

Sesampainya di mobil Angkasa, Dinda membersihkan dirinya didalam mobil Angkasa.

“Untung ya ada lo.” Kata Dinda sambil membersihkan noda – noda yang ada di baju dan rambutnya.

“Lo seharusnya ngelawan dong jangan mau digituin sama mereka.” Ujar Angkasa.

“Gue uda biasa kali digituin sama mereka, tapi kali ini yang paling parah.” Dinda hanya bisa senyum.

“Mereka kayak gitu karena mereka iri sama lo. Lo tuh cantik, pinter, kurang apa coba?” menoleh kearah Dinda.

“Gue gak cantik kok. Gue Cuma cewe culun yang dikucilkan oleh semua orang.” Dinda senyum lagi.

“Lo harus ubah penampilan lo! Besok gue jemput lo jam 4 sore. Oke?” kata Angkasa.

“Emang kita mau kemana?” tanya Dinda heran.

“Uda lo gausa banyak omong.” Kedipin mata ke Dinda.

 

 

***

Angkasa mengajak Dinda ke salah satu mall yang ada di Jakarta.

“Kita ngapain sih ke mall?” tanya Dinda heran.

“Lo harus ubah penampilan lo!” ujar Angkasa.

“Tapi kenapa?” tanya Dinda.

“Biar Luna makin iri sama perubahan dan kecantikan lo.” Goda Angkasa.

“Apaan sih Angkasa.” Dinda malu – malu dan pipinya mulai memerah.

Setibanya di mall, Angkasa terus menggandeng tangan Dinda. Dinda merasa selalu aman jika berada bersama Angkasa. Angkasa memang cowok yang keren dan kalau dia marah kepada seseorang dia masih bisa meredam emosinya sendiri. Dinda sangat bahagia mengenal Angkasa.

“Kita ngapain ke salon?” tanya Dinda.

“Lo hari ini besok dan seterusnya harus merubah penampilan lo!” mata Angkasa menatap mata Dinda dengan tajam.

“Tapiii...”

“Udah pokonya lo harus janji sama gue, oke?” tangan Angkasa memegang lengan Dinda.

“Iya deh iyaaa...” Dinda mengangguk dan menuruti apa kata Angkasa.

Selama kurang lebih 1jam Dinda keluar dari salon. Dinda sudah tidak lagi memakai kacamata, rambut yang selalu dikepang dibiarkan terurai sambil sedikit di curly bagian bawahnya, make up tipis dan sedikit sentuhan lipstick yang berwarna pink membuat Dinda semakin cantik. Dinda memakai dress sedikit diatas lutut berwarna hijau toska membuat Dinda sangat sangattt cantik.

Mata Angkasa tidak kuasa melihat kecantikan Dinda, Dinda yang selama ini dipikirkan anak – anak sekolah sangat culun dan jelek kini berubah menjadi gadis yang sangat cantik dan mempesona. Jantung Angkasa kembali berdegub kencang. Begitu juga denga Dinda. Kini kedua nya saling bertatapan.

 

 

***

“Eh ada murid baru ya? Cantik banget tau gak sih lo!” ujar salah satu siswa di sekolah.

Mendengar itu Luna jadi kaget dan dia cepet – cepet pergi ke tempat parkir. Saat Luna melihat perubahan yang drastis dari Dinda, Luna kesal karena sekarang Dinda menjadi pusat perhatian.

“Gila Dinda cantik banget yaaa..” kata teman Luna.

“Apaan sih lo? Cantikan juga gue, dia mah tetep aja culun.” Sinis naikkin alis.

Setelah seminggu Dinda merubah penampilannya, sekarang Dinda lebih disukai oleh teman – temannya. Tapi tetap hati Dinda hanya untuk satu laki – laki saja. Yaitu Angkasa. Iya Angkasa Pratama. Dinda ingin sekali memiliki cowok itu. Tapi mungkin itu hanya mimpi dan angan gadis culun seperti dia.

Angkasa selalu menemaninya kemana pun dan kapan pun. Saat ini kelas 12 sedang melaksanakan UN (Ujian Nasional) untuk menentukan nasibnya di perguruan tinggi. Setelah selesai UN, sekolah mengadakan party kecil untuk merayakan kelulusan. Disaat itulah Angkasa menyatakan perasaan suka dan sayang kepada Dinda.

Angkasa bertekuk lutut dihadapan Luna disaksikan seluruh siswa dan guru – guru yag hadir.

“Din, gak tau kenapa sejak gue pertama kali ketemu sama lo, gue ngerasa ada yang beda. Jujur gue jatuh cinta saat lo masih culun. Dan saat gue pertama kali ngajak lo kenalan, nganter lo pulang, gue merasa aneh sama diri gue sendiri. Gue gak pernah berpikir kalo gue bakal suka sama cewek culun tapi nyatanya lo bisa membuat gue jatuh cinta. Tatapan lo sering kali bikin hati gue adem. Dan saat ini mungkin waktu yang tepat buat gue nyatain perasaan gue. Gue suka sama lo Din, gue nyaman deket sama lo, gue sayang sama lo, gue pengen jadi orang yang selalu ada disamping lo.”

Semua siswa dan guru yang hadir sangat kagum dan bahagia melihat adegan ini. Angkasa lalu menepuk tangan sebanyak dua kali. Tiba – tiba muncul tulisan di dinding, WILL YOU BE MY GIRLFRIEND CEWEK CULUN?

Dinda langsung meneteskan air mata, dan kini Angkasa memberikannya bunga mawar putih untuk Dinda.

“Dinda, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sayang kamu, jika kamu mau menerima aku jadi pacarmu terimalah bunga ini.”

Dinda sangat terharu sekaligus bahagia karena impiannya saat ini jadi kenyataan, tanpa pikir panjang Dinda mengambil bunga nya dan mengatakan dengan mantab, “YESS I WILL”


Sontak seluruh siswa dan guru bertepuk tangan, lalu Dinda dan Angkasa saling berpelukan. Kini Dinda tidak akan khawatir lagi, karena Dinda sudah memiliki Angkasa. Dinda menjadi wanita paling terbahagia di dunia karena mempunyai laki – laki yang begitu memahami dirinya, menerima apa adanya, dan yang paling penting dia mencintainya.