CANTIK ITU RELATIF
Cewek culun berubah jadi cewek
cantik? Mungkin itu hanya di dongeng – dongeng aja. Namun nyatanya ini yang
dialami Dinda.
Yaaa... Dinda Ariani. Dia adalah
gadis yang cantik, berkulit putih, bola matanya indah berwarna coklat,
mempunyai tubuh yang ideal, alis yang tebal, bibir yang tipis, dan mempunyai
rambut pirang yang lurus dan panjang. Namun sayangnya Dinda adalah gadis culun
yang tidak mau merubah penampilannya. Dia selalu memakai kacamata yang tebal,
selalu mengepang rambutnya sehingga seperti gadis desa, dan penampilan yang
selalu kuno atau ketinggalan jaman. Padahal, Dinda termasuk dalam katagori
orang yang berada atau berkelas.
“Mama.. Dinda berangkat sekolah dulu
yaaa.” Teriak Dinda kencang
“Iya sayangg hati – hati dijalan
yaa.” Sahut mama Dinda dari dalam rumah.
Dinda adalah murid SMA. Dinda duduk
dibangku sekolah kelas 12 IPA-2. Dinda bersekolah disalah satu sekolah yang
elit. SMA Nusa Indah.
“Non, sudah sampai.” Supir Dinda
menoleh ke belakang ke arah Dinda.
“Oh iya pak.” Dinda kaget karena dia
sibuk membaca novel kesukaannya.
Dinda memang bisa dibilang seorang
yang kutu buku. Setiap hari saat bel istirahat dia selalu menyempatkan pergi ke
perpustakaan untuk membaca. Patut saja nila – nilai dia dari semester 1 sampai
sekarang, Dinda selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya. Dinda termasuk
anak yang pintar disekolahnya.
“Oh ya Din, lo uda ngerjain PR
fisika belom?” tanya Inggrid sambil makan es krim yang ada di tangannya.
“Uda dongg, DINDAAAAA” menepuk dada
dan tertawa kecil.
“Gue liat donggg, gue gak paham
Din.”
“Lo yang gak paham atau lo yang
males buat ngerjain PR fisika?” goda Dinda
“Hehehe... lo ngerti aja sih Din.
Yaa bisa dibilang dua – duanya sih.” Muka Inggrid memerah.
“Eh Nggrit, tuh dicariin cowo lo”
jari Dinda nunjuk ke arah pintu kelas.
“Oh iya Din ada Tomi. Hmmm gue uda
cantik belom Din? Ngerapiin rambut sambil cengar – cengir gak jelas.
“Uda uda...” muka bete.
***
“Mom... Angkasa pergi ke sekolah
dulu ya” sambil membawa satu potong roti dan mengunyahnya.
“Oh iya Angkasa, kamu harus baik –
baik ya sama sekolah baru kamu.” cium pipi Angkasa.
“Siap mom. Angkasa pergi dulu
yaaa.... love you mom.” Mencium balik pipi mama nya.
Angkasa segera memanaskan mobil nya
dan bersiap untuk pergi ke sekolah baru nya. Sial kenapa gue harus balik ke
Indonesia, sedangkan gue uda nyaman banget sekolah di Australia. Batin
Angkasa sambil menyetir mobil nya.
SMA NUSA INDAH.
“Yaa ya yaaa, selamat datang murid
baru.” Membuka sabuk pengamannya.
Angkasa segera bergegas keluar dari
mobilnya. Dan melepaskan kacamata hitam nya. Saat Angkasa keluar dari mobil,
semua pra siswa yang ada disitu langsung melihat Angkasa apalagi mata cewek –
cewek di sekolah itu langsung tertuju pada Angkasa. Angkasa bisa dibilang cowok keren. Dia tinggi, putih, mempunyai hidung
yang mancung, senyum yang manis, dan cool abis. Namun banyak diantara mereka
yang tidak tahu bahwa Angkasa adalah anak dari pemilik sekolah SMA Nusa Indah.
Papa dan mama nya Angkasa sering kali terlihat mondar – mandir di sekolah ini.
“Oke anak – anak sekarang keluarkan
PR kalian kemarin. Lalu kumpulkan di depan.” Perintah Bu Susi selaku guru
fisika.
“Baikkk buuuuuuu,......” serentak
seluruh siswa dikelas.
Bu Susi pun akhirnya memberi materi
baru untuk anak kelas 12.
“Nah jadi sekarang kita akan masuk
bab baru yaitu.....” menerangkan di papan.
Tok tok tok
“Oh ibu kepala sekolah. Silahkan
masuk bu.” Bu Susi memberikan senyuman.
“Eh kenapa nih Bu Reni kesini?”
bisik Dinda kepada Inggrid.
“Gue juga gatau, jangan – jangan
dikelas ini ada yang kena masalah lagiii... aduh gimana nihhh”, raut wajah Inggrid
menegang dan gigitin jari.
“Aduh uda deh kan kita juga gatau
ada apa. Santai aja Nggrid.” Guman Dinda tenang.
“eh ada apa nihhhh......” bisik
seluruh siswa di kelas itu.
“Hmm mohon perhatiannya sebentar...”
sambil membenahi kacamatanya.
“Iya buu” serentak seluruh siswa.
“Oke anak – anak kedatangan saya
disini adalah untuk memberitahukan bahwa dikelas ini 12 IPA-2 kedatangan siswa
baru.”
“Bu.. cewek apa cowok?” kata Luna
sambil menggulung – gulung rambutnya.
Memang Luna termasuk cewek populer
di sekolah. Namun Luna sangat membenci Dinda karena cara berpenampilan yang
kuno dan menurut dia, Dinda orang yang sok pintar. Tapi saat semua orang yang ada
disekolah itu mengucilkan Dinda, Inggrid selalu ada untuk menemani Dinda. Walau
bisa dibilang Inggrid juga cewek yang cantik dan dia juga mengikuti
ekstrakurikuler cheerleader.
“Luna, jangan potong omongan Bu Reni
tidak sopannn!” mata Bu Susi melotot ke arah Luna.
“Oke silahkan masuk Angkasa.” Kata
Bu Reni.
Angkasa masuk ke dalam kelas. Dan
semua siswa langsung terpana akan kegantengannya. Apalagi Luna yang sok
kecakepan itu.
“Ihhhh ganteng bangetttttttt....”
kata Luna sambil senyum sendiri.
“Ganteng banget Din.” Inggrid
menyenggol Dinda.
“Apaan sih biasa aja.” Manyunin
bibir.
Suasana kelas mulai gaduh.
“Oke silahkan kamu perkenalkan diri
kamu.” Perintah Bu Reni.
“Hai guys...” kata Angkasa.
“Halloo...” sahut siswa semua.
“Perkenalkan nama gue Angkasa Pratama.
Gue pindahan sekolah dari Australia. Kalian semua bisa panggil gue Angkasa. Dan
gue harap kalian semua bisa menerima gue dikelas ini. Sekian perkenalan dari
saya. Terimakasih.” Angkasa tersenyum.
“Hai Angkasa...” teriak cewek –
cewek yang ada dikelas itu kecuali Dinda.
Angkasa hanya tersenyum.
“Ya sudah Angkasa kamu boleh duduk.
Pilih bangku yang masih kosong ya.” Perintah Bu Susi.
“Oke kalau begitu sekian dari saya
terima kasih.” Kata Bu Reni meninggalkan kelas.
“shutt.... duduk disamping gue aja.”
Ujar Luna genit.
“Thank you tapi disini masih
kosong.” Kata Angkasa kalem.
Angkasa duduk disamping Dinda. Teman
– teman cewek Dinda sangat iri pada Dinda karena Angkasa duduk disamping Dinda.
“Ih Dinda ganjen banget sih.. makin
benci deh gue sama dia.” Luna menyobek – nyobek kertas.
“Bukan dia, tapi lo yang ganjen.”
Sahut Syahrul.
“Apaan sih lo.” Lua ngelemparin
sobekan kertas tadi pada Syahrul.
Luna yang tadi nya biasa aja, lalu
berguman dalam hati.
Ya Tuhan cowo
ini ganteng banget. Andaikan aja aku bisa memilikinya. Tapi itu mustahil karena
cowo – cowo disini aja banyak yang gak suka sama aku.
“Baiklah anak – anak kita lanjutkan
pelajaran.” Suara Bu Reni menyadarkan lamunan Dinda.
***
Dinda merebahkan tubuhnya diatas
ranjang miliknya. Dia merasa hari ini sangat membahagiakan sebab Dinda duduk
bersebelahan dengan Angkasa. Cowok paling keren yang pernah ada di sekolah.
“Gue kenapa jadi mikirin cowo itu
terus ya? Padahal kan gue juga baru ketemu tadi.” Ngomong sama boneka teddy
bear nya.
Dinda seperti melayang di udara.
Dinda melamunkan dia saat berdua dengan Angkasa.
Aroma khas yang keluar dari arah dapur
membuyarkan semua lamunan Dinda. Dinda langsung tersadar dan segera mengacak –
acak rambutnya. Dan dia harusnya tidak memikirkan Angkasa yang jelas – jelas
dia gak tahu asal – usulnya.
“Hmmm.. mama masak kue kering
nihhh.” Dinda beranjak dari tempat tidur dan menghampiri dapur.
Yap betul sekali prediksi Dinda,
mama nya sedang membuat kue kering coklat kesukaan Dinda.
“Mama bikin kue kering kesukaan ku ya?”
tanya Dinda girang.
“Iya dong.. nih cobain sayang.”
Memberikan satu buah kue kering kepada Dinda.
“mmmm... yummy.... enak banget ma.”
Mengunyah dengan mantap.
“Iya dong mama.” Sambil mengicipi
juga kue yang tadi sudah dibikin.
Hari ini waktunya ujian Kimia.
Seluruh siswa kelas 12 IPA-2 sangat sibuk belajar untuk menghadapi ujian Kimia.
Dinda yang daritadi fokus membaca dan menghafalkan rumus kimia itu di kejutkan
dengan Angkasa.
“Mmmm... haii.” Angkasa menjabat
tangan Dinda.
“O..oo..hhh hai.” Sahut Dinda tanpa
menjabat tangan Angkasa.
“Nama lo siapa? Gue uda seminggu
duduk disebelah lo tapi belum ngerti nama lo?” tanya Angkasa dengan hati –
hati.
“Dinda Ariani. Panggil aja Dinda.”
Dinda tetap fokus membaca rumus – rumus kimia yang sekira Dinda lebih menakutkan
dari film horor.
“Lo cuek banget ya? Beda kayak cewe
– cewe yang perna gue temui.” Mengangkat alisnya.
“Gue beda terus kenapa? Lo gasuka?”
jawab ketus oleh Dinda.
Kini mata Dinda bertemu dengan mata
Angkasa. Selama kurang lebih 5 menit mereka berdua saling bertatap mata.
Jantung Dinda berdetak sangat kencang.
Angkasa yang sejak awal pertemuan
pertama melihat Dinda akan sudah ada ikatan yang seperti magnet, menempel
sangat erat. Entah kenapa cewek culun yang ada dihadapannya sekarang sungguh
sudah merampas sebagian hatinya. Namun Angkasa ingin sekali mengelak akan
perasaan itu, tapi tidak bisa. Angkasa selalu memikirkan Dinda. Cewek yang
tidak mempunyai fashion yang bagus dibandingkan dengan Luna yang setiap hari
berdandan dikelas. Angkasa seperti menemukan dunia baru. Dunia yang lain.
Biasanya setiap dia melihat cewek – cewek yang modelnya seperti Dinda dia
selalu meremehkan. Atau kah mungkin Angkasa sudah terkena karma?
“Kenapa lo liatin gue gitu.” Suara
Dinda membuyarkan lamunan Angkasa.
“Gapapa Din.” Jawab Angkasa kalem.
Pelajaran hari ini telah berakhir.
Ujian kimia telah dilalui. Waktu pulang sekolah Dinda belum dijemput oleh supir
yang biasanya. Tanpa sengaja Angkasa melihat Dinda yang sedang menunggu
jemputan di dekat pos. Mobil Angkasa melaju menuju Dinda.
“Hai Din, mau pulang bareng gue
gak?” Angkasa menurunkan kaca mobilnya.
“Nggak makasih.” Jawab Dinda ketus.
“Gak baik lo nolak ajakan orang. Itu
nanti dosa lo.” Bujuk Angkasa.
“Iya deh iya. Emang mau lo anterin
gue pulang?” Dinda mulai senyum kepada Angkasa.
“Lo nya mau apa enggak gue anterin
pulang?” Angkasa senyum balik kepada Dinda.
“Boleh..” angguk Dinda lemah.
“Oke silahkan masuk.” Kata Angkasa.
***
Hampir sudah 10 bulan lebih Dinda
dan Angkasa menjadi teman baik, teman dekat, yang bisa membuat cewek – cewek
satu sekolah cemburu dan iri melihat kedekatannya. Apalagi Luna, Luna sangat
membenci Dinda.
Jam sudah menunjukan pukul 2 siang.
Waktunya pulang sekolah Dinda menunggu jemputan supirnya tiba – tiba geng nya
Luna menghampiri Dinda. Dinda kaget dan Dinda berusaha menyapa Luna.
“Hai Lun.” Sapa Dinda kalem.
“Gausa sok care lo sama gue.” Sahut
Luna ketus.
“Hei anak culun. Gue bakal kasih lo
pelajaran yaa!” kata Luna dengan muka memerah seakan marah kepada Dinda.
“Apa – apaan sih lo Lun? Gue gaperna
punya masalah sama lo.” Sahut Dinda juga mulai terpancing emosi.
Tanpa pikir panjang geng Luna dan
Luna menyiratinya Dinda dengan tepung, melempari dengan telur, kopi, dan air
got. Luna yang tahu nya Angkasa tidak masuk sekolah hari ini membuat Luna
semakin puas mengerjai Dinda, karena tidak akan ada lagi yang akan mau membantu
Dinda termasuk temannya sendiri Inggrid. Dinda pasrah saat geng Luna
melemparinya dengan telor. Dada Dinda sakit saat dipermalukan di depan umum.
Dinda hanya bisa menangis saat dipermalukan. Karena disitu seluruh siswa
sekolah melihat dan menertawakannya. Dan para guru – guru yang ada disitu juga
lagi rapat karena akan diadakannya UN untuk anak kelas 12.
“Itu balesan buat lo karena lo uda
rebut Angkasa dari gue. Dasar cewek ganjen.” Luna menuangkan air yang ada di
dalam botol minumannya kepada Dinda
“Siapa yang bilang Dinda itu
ganjen?” suara Angkasa mengheningkan suasana yang ada di sekitarnya.
“Angkasa?” Luna terkejut akan
hadirnya Angkasa disana.
“Lo juga cewek kan? Seharusnya lo
juga tau perasaan Dinda saat di permaluiin kayak gini! Lo bukannya bikin gue
suka sama lo tapi malah bikin gue semakin benci dan ilfil sama lo!” Angkasa
memaki dan memarahi Luna dengan kejam.
“Tapi Sa.. guee sayang sama lo.”
Luna mencoba memegang tangan Angkasa.
“Gue jijik sama cewek kayak lo! Dan
juga geng lo ini.” Angkasa semakin menjadi – jadi.
“Ayo Dinda, kita pergi dari sini.”
Angkasa menggendong Dinda yang sudah sangat malu.
Luna yang melihat Dinda di gendong
oleh Angkasa semakin membenci Dinda.
Sesampainya di mobil Angkasa, Dinda
membersihkan dirinya didalam mobil Angkasa.
“Untung ya ada lo.” Kata Dinda
sambil membersihkan noda – noda yang ada di baju dan rambutnya.
“Lo seharusnya ngelawan dong jangan
mau digituin sama mereka.” Ujar Angkasa.
“Gue uda biasa kali digituin sama
mereka, tapi kali ini yang paling parah.” Dinda hanya bisa senyum.
“Mereka kayak gitu karena mereka iri
sama lo. Lo tuh cantik, pinter, kurang apa coba?” menoleh kearah Dinda.
“Gue gak cantik kok. Gue Cuma cewe
culun yang dikucilkan oleh semua orang.” Dinda senyum lagi.
“Lo harus ubah penampilan lo! Besok
gue jemput lo jam 4 sore. Oke?” kata Angkasa.
“Emang kita mau kemana?” tanya Dinda
heran.
“Uda lo gausa banyak omong.” Kedipin
mata ke Dinda.
***
Angkasa mengajak Dinda ke salah satu
mall yang ada di Jakarta.
“Kita ngapain sih ke mall?” tanya
Dinda heran.
“Lo harus ubah penampilan lo!” ujar
Angkasa.
“Tapi kenapa?” tanya Dinda.
“Biar Luna makin iri sama perubahan
dan kecantikan lo.” Goda Angkasa.
“Apaan sih Angkasa.” Dinda malu –
malu dan pipinya mulai memerah.
Setibanya di mall, Angkasa terus
menggandeng tangan Dinda. Dinda merasa selalu aman jika berada bersama Angkasa.
Angkasa memang cowok yang keren dan kalau dia marah kepada seseorang dia masih
bisa meredam emosinya sendiri. Dinda sangat bahagia mengenal Angkasa.
“Kita ngapain ke salon?” tanya
Dinda.
“Lo hari ini besok dan seterusnya
harus merubah penampilan lo!” mata Angkasa menatap mata Dinda dengan tajam.
“Tapiii...”
“Udah pokonya lo harus janji sama
gue, oke?” tangan Angkasa memegang lengan Dinda.
“Iya deh iyaaa...” Dinda mengangguk
dan menuruti apa kata Angkasa.
Selama kurang lebih 1jam Dinda
keluar dari salon. Dinda sudah tidak lagi memakai kacamata, rambut yang selalu
dikepang dibiarkan terurai sambil sedikit di curly bagian bawahnya, make up
tipis dan sedikit sentuhan lipstick yang berwarna pink membuat Dinda semakin
cantik. Dinda memakai dress sedikit diatas lutut berwarna hijau toska membuat
Dinda sangat sangattt cantik.
Mata Angkasa tidak kuasa melihat
kecantikan Dinda, Dinda yang selama ini dipikirkan anak – anak sekolah sangat
culun dan jelek kini berubah menjadi gadis yang sangat cantik dan mempesona.
Jantung Angkasa kembali berdegub kencang. Begitu juga denga Dinda. Kini kedua
nya saling bertatapan.
***
“Eh ada murid baru ya? Cantik banget
tau gak sih lo!” ujar salah satu siswa di sekolah.
Mendengar itu Luna jadi kaget dan
dia cepet – cepet pergi ke tempat parkir. Saat Luna melihat perubahan yang
drastis dari Dinda, Luna kesal karena sekarang Dinda menjadi pusat perhatian.
“Gila Dinda cantik banget yaaa..”
kata teman Luna.
“Apaan sih lo? Cantikan juga gue,
dia mah tetep aja culun.” Sinis naikkin alis.
Setelah seminggu Dinda merubah
penampilannya, sekarang Dinda lebih disukai oleh teman – temannya. Tapi tetap
hati Dinda hanya untuk satu laki – laki saja. Yaitu Angkasa. Iya Angkasa
Pratama. Dinda ingin sekali memiliki cowok itu. Tapi mungkin itu hanya mimpi
dan angan gadis culun seperti dia.
Angkasa selalu menemaninya kemana
pun dan kapan pun. Saat ini kelas 12 sedang melaksanakan UN (Ujian Nasional)
untuk menentukan nasibnya di perguruan tinggi. Setelah selesai UN, sekolah
mengadakan party kecil untuk merayakan kelulusan. Disaat itulah Angkasa
menyatakan perasaan suka dan sayang kepada Dinda.
Angkasa bertekuk lutut dihadapan
Luna disaksikan seluruh siswa dan guru – guru yag hadir.
“Din, gak tau kenapa sejak gue
pertama kali ketemu sama lo, gue ngerasa ada yang beda. Jujur gue jatuh cinta
saat lo masih culun. Dan saat gue pertama kali ngajak lo kenalan, nganter lo
pulang, gue merasa aneh sama diri gue sendiri. Gue gak pernah berpikir kalo gue
bakal suka sama cewek culun tapi nyatanya lo bisa membuat gue jatuh cinta. Tatapan
lo sering kali bikin hati gue adem. Dan saat ini mungkin waktu yang tepat buat
gue nyatain perasaan gue. Gue suka sama lo Din, gue nyaman deket sama lo, gue
sayang sama lo, gue pengen jadi orang yang selalu ada disamping lo.”
Semua siswa dan guru yang hadir
sangat kagum dan bahagia melihat adegan ini. Angkasa lalu menepuk tangan
sebanyak dua kali. Tiba – tiba muncul tulisan di dinding, WILL YOU BE MY
GIRLFRIEND CEWEK CULUN?
Dinda langsung meneteskan air mata,
dan kini Angkasa memberikannya bunga mawar putih untuk Dinda.
“Dinda, dari lubuk hatiku yang
paling dalam aku sayang kamu, jika kamu mau menerima aku jadi pacarmu terimalah
bunga ini.”
Dinda sangat terharu sekaligus
bahagia karena impiannya saat ini jadi kenyataan, tanpa pikir panjang Dinda
mengambil bunga nya dan mengatakan dengan mantab, “YESS I WILL”
Sontak seluruh siswa dan guru
bertepuk tangan, lalu Dinda dan Angkasa saling berpelukan. Kini Dinda tidak
akan khawatir lagi, karena Dinda sudah memiliki Angkasa. Dinda menjadi wanita
paling terbahagia di dunia karena mempunyai laki – laki yang begitu memahami
dirinya, menerima apa adanya, dan yang paling penting dia mencintainya.